Geliat sekuritas di tengah kompetisi ketat

Selasa, 05 Oktober 2010

Oleh: Fahmi Achmad

"Kalau dengan lokal, kami tidak takut. Kami melihat sekuritas lokal justru tergencet dengan kehadiran sekuritas asing," kata Edgar Ekaputra dengan mimik tegas.
Kalimat dengan nada serius diucapkan Direktur Utama PT Danareksa (Persero) untuk menekankan jawabannya ketika saya menanyakan kompetisi antarsekuritas di pasar modal domestik saat ini.
Kami bertemu di sela-sela acara 2010 Finance Asia Country Award di mana PT Danareksa Sekuritas menyabet tiga penghargaan sekuritas terbaik wilayah Indonesia, sedangkan PT Danatama Makmur meraih satu penghargaan dari majalah tersebut.
Edgar tak menampik fakta saat ini persaingan antarsekuritas begitu ketat dibandingkan dengan 5 tahun lalu misalnya. Benang merahnya, katanya, sekuritas asing mulai merebut pangsa pasar lokal.
Sepanjang 3 tahun terakhir ini, berdasarkan data Bloomberg, sejumlah nama sekuritas asing menyeruak dalam daftar 20 besar penjamin emisi obligasi berdenominasi rupiah. Meskipun begitu tiga besar teratas selalu ditempati sekuritas lokal.
CIMB misalnya, selalu menjadi 'penantang' yang patut diperhitungkan oleh pemain-pemain lokal dalam 3 tahun terakhir. Sekuritas asal Malaysia tersebut bahkan sempat masuk daftar lima besar.
Pada 2008, CIMB berada di urutan ke-4 dari daftar 20 sekuritas papan atas di Tanah Air dengan pangsa 6,3% dan nilai penjaminan Rp1,05 triliun. Posisi itu tepat di bawah Mandiri Sekuritas, Danareksa Sekuritas dan Indo Premier Securities.
Pada tahun ini, Bloomberg menempatkan CIMB di posisi 6 besar dengan pangsa yang meroket menjadi 6,4% karena berhasil melakukan penjaminan senilai Rp1,63 triliun, di bawah lima pemain lokal lainnya.
Namun, ada juga sekuritas asing yang berjuang keras merebut pangsa pasar. DBS Holdings Ltd misalnya, tahun ini hanya berada di urutan 11 dengan sembilan emisi senilai Rp633 miliar dan hanya berpangsa 2,5%.
Pencapaian sekuritas asal Singapura tersebut masih di bawah hasil tahun lalu, di mana DBS mampu meraih posisi delapan besar dari 10 penjaminan dengan nilai Rp1,14 triliun dan berpangsa pasar 3,2%.
HSBC Bank Plc juga tampil ciamik dengan mendapatkan banyak klien. Tahun ini, berdasarkan data Bloomberg, bank yang berkantor pusat di Hong Kong tersebut juga mendapatkan kepercayaan dari 10 emisi dengan nilai Rp808,33 miliar.
Sepak terjang sekuritas asing yang lumayan meyakinkan tersebut tak pelak berbuah kekhawatiran bagi pimpinan sekuritas lokal. Apakah itu tanda kemunduran sekuritas lokal?
Ganti baju
Edgar menilai penetrasi sekuritas asing harus disikapi dengan gaya yang sedikit berbeda dari biasanya. Pola pikir liberalisme pasar tetap dijalankan tetapi sedikit gaya proteksi pun tak ada salahnya.
Edgar menambahkan kekuatan modal yang cukup besar dari sekuritas asing membuat banyak SDM lokal yang pindah dan 'berganti baju'.
Seakan mengamini Edgar, Dirut Danareksa Sekuritas Marciano Herman menilai pemerintah harus mengambil sikap terhadap kelangsungan bisnis sekuritas lokal, terutama yang sahamnya dikuasai pemerintah.
"Harus ada strategi baru dan ketegasan pemerintah sehingga dukungan yang kuat akan membuat sekuritas lokal tetap memimpin pasar," katanya.
Kini gempuran terhadap sekuritas lokal juga kian deras. Seperti diketahui, perusahaan sekuritas asing seperti Goldman Sachs dan Religare Enterprise Limited tertarik masuk menjadi anggota bursa di Indonesia.
Beberapa sekuritas asing lain, yaitu Daiwa Securities, Commonwealth Securities dan Morgan Stanley Asia Indonesia, bahkan selangkah lagi meraih izin mendirikan sekuritas di Indonesia dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK).
Presiden Direktur PT Kresna Graha Sekurindo Michael Steven menilai sedikit proteksi akan bermanfaat menjaga daya saing perusahaan sekuritas lokal agar menjadi lebih kompetitif.
Dia mencontohkan China yang mewajibkan perusahaan sekuritas asing yang ingin menjadi anggota bursa setempat menggandeng perusahaan lokal dengan membentuk perusahaan patungan.
Selain itu, kepemilikan perusahaan asing tersebut dibatasi maksimal 33%.
Di sisi lain, seperti kata Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito, minat besar sekuritas asing bermain di Indonesia menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia yang relatif baik dan bursa saham Indonesia yang sangat bergairah.
Namun, saya juga sependapat dengan komentar Yanuar Rizky, pengamat pasar modal Aspirasi Indonesia Research Institute (Air Inti) baru-baru ini, yang menilai otoritas juga perlu melihat aspek yang lebih luas.
Bagaimanapun, bukan hanya sekuritas lokal yang perlu diberdayakan, kepentingan investor lokal terutama yang individu pun sangat penting dilindungi. (fahmi.achmad@bisnis.co.id)

Jumlah emisi Nilai (Rp miliar)
1. Mandiri Sekuritas 24 5.193,33
2. Danareksa Sekuritas 20 4.119,33
3. Bahan Securities 14 4.045,00
4. Indo Premier Securities 19 2.869,83
5. Trimegah Securities 8 2.000
6. CIMB 11 1.631,83
7. Standard Chartered Plc 8 1.603,17
8. NISP Sekuritas 4 933,33
9. HSBC Bank Plc 10 808,33
10. AAA 8 670
Sumber: Bloomberg
http://www.bisnis.com/artikel/2id3120.html
 

Translate to : by

0 komentar:

Posting Komentar