Sampai Akhir Oktober Panas 35d Celcius, Awas Tuli

Sabtu, 02 Oktober 2010

Seminggu terakhir, masyarakat Surabaya dan sekitarnya merasakan perubahan suhu yang ekstrem. Kadang-kadang panas menyengat hingga seperti membakar kulit, tapi hari berikutnya hujan lebat.
Kondisi ini memicu timbulnya berbagai penyakit seperti flu, pilek, sakit tenggorokan hingga gangguan saraf pendengaran seperti tuli mendadak.
Khusus kasus tuli mendadak, berdasarkan data di Pusat Pendengaran dan Komunikasi RSU Dr Soetomo, selama dua minggu terakhir pasien yang berobat mencapai delapan orang.
Kepala Pusat Pendengaran dan Komunikasi RSU Dr Soetomo Dr dr Nyilo Purnami Sp THT-KL mengaku kaget dengan gejala ini. Nyilo memperkirakan tingginya pasien tuli mendadak ini karena udara lembap yang terjadi selama musim kemarau basah sekarang. Udara lembap ini memicu berkembangnya kuman dan virus.
Selain itu, lanjut Nyilo, adanya gangguan dari tubuh seperti kencing manis, kolesterol, darah tinggi, ginjal, dan tumor. “Bisa juga karena kelelahan. Mungkin saat Lebaran kemarin banyak yang mudik naik mobil Surabaya-Jakarta, jadi kelelahan dan akhirnya memicu timbulnya gangguan ini,” terang Nyilo.
Tuli mendadak ini ditandai dengan timbulnya suara mendenging, mendengung atau kemrosok disertai pendengaran turun dan sakit kepala (vertigo) hingga muntah. Biasanya gejala ini terjadi selama empat hari. “Ini harus segera diperiksa, kalau tidak bisa gawat karena bisa menimbulkan tuli permanen,” saran Nyilo.
Dia menyarankan penderita gejala ini harus istirahat total. Bahkan di luar negeri, penderita diharuskan untuk opname dan mendapatkan perawatan intensif. Jika hal ini tidak dihiraukan, Nyilo khawatir gejala akan berkembang dan pada akhirnya harus dibantu dengan alat pendengaran.
Dengan penanganan yang baik Nyilo optimistis dalam jangka waktu dua hari hingga dua minggu gejala tersebut teratasi. “Kalau langsung dibawa ke spesialis, biasanya dua hari bisa teratasi, tapi kalau agak terlambat seperti pasien di daerah paling tidak butuh dua minggu untuk pulih,” terang Nyilo.
Agar keluhan ini tidak muncul, Nyilo menyarankan agar masyarakat terus memerhatikan staminanya, tidak terlalu diforsir serta memerhatikan makanan sehat.
Sementara untuk gangguan lain seperti flu dan tenggorokan, juga tetap harus diwaspadai selama musim ini. Begitu juga dengan gangguan mimisan pada anak-anak.
Sementara itu, data dari Stasiun Meteorologi BMKG Kelas I Juanda menyebutkan suhu tertinggi seminggu terakhir ini mencapai 34 hingga 35 derajat celcius. Suhu ini terjadi pada siang hari pukul 13.00 WIB hingga 14.00 WIB. Suhu ini jauh di atas suhu normal rata-rata yang hanya 28 hingga 29 derajat celcius.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Kelas I Juanda Syamsul Huda mengungkapkan, tingginya suhu itu disebabkan posisi matahari saat ini berada di 6,5 derajat Lintang Selatan melewati khatulistiwa. Pada saat itu, sudut datangnya lebih tinggi, sehingga intensitas radiasi lebih kuat.
“Karakteristik dari kondisi ini, jika tidak ada hujan ya panas sekali seperti yang terjadi beberapa hari terakhir ini,” terang Syamsul saat dihubungi, Jumat (1/10).
Kondisi panas yang terjadi siang hari berlanjut saat malam hari. Ini dimungkinkan karena saat malam masih banyak awan, sehingga suhu di siang hari mengalami penurunan yang lambat.
Menurut Syamsul suhu minimal malam hari saat ini mencapai 24 hingga 25 derajat Celcius. Suhu ini lebih tinggi dibandingkan suhu normal rata-rata yang sekitar 22 derajat Celcius.
Terkait, masih seringnya hujan, hal itu bisa terjadi karena kondisi cuaca relatif basah sebagai akibat dari penyimpangan musim (anomali). Hujan biasanya terjadi setelah munculnya awan cumulunimbus berwarna abu-abu kegelapan dan dasar awannya rendah. Awan cumulunimbus ini membuat turunnya hujan shower disertai angin puting beliung yang kecepatannya mencapai 50 km/jam.
Syamsul memperkirakan kondisi ini akan terus berlangsung hingga 20 hari pertama bulan Oktober 2010.

nuus
surya.co.id


Translate to : by

0 komentar:

Posting Komentar