Masa Kecil Komjen Timur Pradopo
Dipilihnya Komisaris Jenderal (Komjen) Timur Pradopo sebagai calon tunggal Kapolri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tak hanya mengagetkan sejumlah kalangan. Keluarga besarnya di Desa Gempolegundi, Kecamatan Gudo, Jombang, juga terkejut, dan tidak menduga Timur dicalonkan menduduki jabatan tertinggi di tubuh Polri.
Toh, seluruh keluarga merasa bersyukur, sekaligus mendukung pemilihan tersebut. Keluarga menilai, jika Timur betul-betul ditetapkan menjadi Kapolri, itu keputusan yang layak.
Sebab, sosok Timur di keluarga besarnya merupakan teladan. Selain bertanggung jawab, kepemimpinannya juga menonjol, serta sikap hidupnya yang tergolong sederhana.
Kesederhanaan ini segera tampak ketika Surya sambang ke rumah keluarganya di Gempolegundi, di mana Timur menghabiskan masa kecil dan remajanya. Rumah induk yang dulu ditempati almarhum kakek-neneknya, pasutri Syaiun-Ti’ah, kini kondisinya jauh dari kesan mewah. Bahkan masih terkesan sebagai bangunan kuno.
Lantainya hanya plester biasa, dengan dinding tembok dan genting yang sudah usang. Rumah tersebut kini dihuni Suwarti, 77, tante Timur, dan dua anaknya, Wilujeng, 27, dan Andayani, 29, yang keduanya sudah berkeluarga. Sedangkan rumah orangtua Timur sendiri, pasutri Sigit Syaiun-Sriyati, 79, persis berada di sebelah kiri rumah induk, selain sederhana juga terlihat tidak terawat.
Rumah yang dulu ditinggali pasutri Sigit-Sriyati beserta tujuh anak (termasuk anak pertama, Timur Pradopo), sejak 10 tahun lalu memang tidak dihuni siapa pun. “Karena Mbak Sriyati lebih sering tinggal di luar kota. Kadang-kadang di Jakarta, Bandung, Kota Jombang, Blitar. Dia tinggal di rumah anak-anaknya secara bergiliran,” kata Suwarti, Selasa (5/10).
Di mata Suwarti, sosok Timur di masa kecilnya merupakan anak yang pendiam. “Selain pendiam, dia juga klemak-klemek. Hanya saja di sekolah Timung (panggilan akrab Timur, Red) memang pintar,” ujar adik kandung Sigit, ayah Timur. Sigit meninggal beberapa tahun lalu, dan dikebumikan di desa setempat. Hanya saja, menurut Suwarti, kesederhanaan dan semangat Timur untuk maju memang luar biasa. Dengan kondisi ekonomi keluarga pas-pasan, di mana ayahnya hanya seorang guru dengan tanggungan tujuh anak, Timur tak pernah patah semangat untuk terus bersekolah.
“Dia tak segan makan nasi jagung, sarapan sego wadang (nasi sisa kemarin) sebelum berangkat sekolah. Itu dilakukan tak hanya saat SD, tapi juga ketika sudah di SMP dan SMA,” imbuh Suwarti, sembari menyebut, setelah lulus SD di desanya, Timur meneruskan di SMP Katolik dan SMA Katolik Kertosono, Nganjuk.
Disinggung tentang hobi Timur semasa kecil dan remaja, Suwarti mengaku hobinya adalah membaca buku. “Dia juga suka sepak bola dan main tembak-tembakan bersama teman-temannya,” imbuh Suwarti.
Menurut Suwarti, meski Timur Pradopo jarang pulang ke Gempolegundi. Namun, komunikasi dengan kerabatnya di Gempolegundi tidak pernah putus. Seringkali Timur Pradopo menghubungi kerabatnya melalui ponsel. “Sejak sekitar sepuluh tahun lalu, sejak ibu Timung tidak tinggal di sini, sejak itu pula, Timung jarang ke sini. Kalau pun ke sini, paling hanya nyekar ke makam ayahnya,“ timpal Wilujeng, anak Suwarti.
Slamet Sutrisno, 56, teman sedesa dan teman sekolah Timur Pradopo di SDN Gempolegundi dan SMP Katolik, Kertosono, menuturkan, selain pendiam dan pandai di sekolah, Timung juga anak yang patuh kepada orangtuanya. Tentang jiwa kepemimpinan Timung, Slamet, mengatakan, tercermin dari sikapnya ketika menghadapi teman-temannya yang nakal dan suka berantem. Menurut Slamet, kendati usia Timung paling muda ketimbang teman-teman sekelasnya, kalau ada teman yang berantem justru dia mendamaikan. “Dia sendiri tidak pernah sekalipun berkelahi,” kata Slamet.
Yang mengesankan dan tidak bisa terlupakan tambah Slamet, Timur Pradopo sering kali sarapan dengan nasi sisa sore hari. “Subhanallah, Mas Timung itu sering kali makan nasi wadang (sisa sore) dengan bikin sambal sendiri. Dan sekolahnya pun tidak pakai sangu. Padahal, ngayuh sepeda jelek ke Kertosono. Itu setiap hari dilakukan bersama saya,“ kata Slamet.
Sepupu Timur Pradopo, Kemal Pasha, mengungkapkan, di matanya, Timur sosok yang sangat bertanggung jawab. Salah satu contoh, kata Kemal, demi membesarkan keenam adiknya, Timur sampai menunda perkawinannya sendiri. “Itu sungguh cermin tanggung jawab dan pengorbanan luar biasa,” kata PNS di Dishubkom Jombang itu. Kini Timur mempunyai dua anak, Moh Bimo Aryo Seto dan Dhea Istigfarina Miranti hasil pernikahan dengan Irianti Sari Andayani.
Timur Pradopo lahir di Jombang, 10 Januari 1956. Artinya, ia sekarang berusia 54 tahun. Lulusan Akabri 1978 itu pernah menjabat Kapolda di tiga wilayah berbeda, yakni: Banten, Jawa Barat, dan yang terakhir, Kapolda Metro Jaya. Dia juga pernah menjadi ajudan Presiden Abdurrahman Wahid.
Surat Presiden kepada DPR untuk mengajukan Timur Pradopo sebagai calon Kapolri ditandatangani pada detik-detik terakhir, Senin (4/10). Sebelumnya perhatian publik dan media massa terpusat pada dua nama calon Kapolri yang lebih dahulu beredar, yaitu Inspektur Pengawasan Umum Komjen Nanan Soekarna dan Kepala Badan Pendidikan Polri Komjen Imam Sudjarwo.
Setelah Presiden memastikan nama Timur, hari itu juga Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri melantik Timur yang semula berpangkat Irjen dan menjabat Kapolda Metro Jaya menjadi Komjen dan menjabat Kepala Bagian Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam). Dan malam harinya Ketua DPR Marzuki Alie mengumumkan bahwa Presiden mengirim surat kepada DPR tentang pencalonan Timur sebagai Kapolri.
sutono
www.surya.co.id
Translate to : by


0 komentar:
Posting Komentar