Acara Macapatan Menyambut Satu Sura

Minggu, 12 Desember 2010

MENYAMBUT kedatangan bulan Sura atau Muharram dengan menggelar macapatan merupakan tradisi warisan masa lalu yang hingga kini masih terpelihara.

Pada acara yang bertepatan dengan kedatangan tanggal 1 Muharram atau satu Sura tersebut dilantunkan sederet pupuh atau tembang-tembang macapat yang pada intinya mengandung sasmita ihwal gambaran kehidupan manusia sejak belum dilahirkan hingga berakhir pada suatu keadaan yang lazim disebut alam kelanggengan.

Dalam gelaran macapatan menyambut Satu Sura, sebagaimana disampaikan Ki Muharso (47), sejumlah pupuh yang dilantunkan menggambarkan perjalanan hidup putera Nabi Yakub yang bernama Yusuf, yang penuh liku-liku serta penderitaan hingga akhirnya menjadi seorang nabi dan raja.

Menurut seniman karawitan dan pedalangan asal Beji Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, tembang macapat yang disajikan selain menyitir kisah perjalanan Nabi Yusuf, sejatinya berisi pula beragam wewarah yang sangat relevan dengan kehidupan manusia sepanjang jaman.

"Wewarah ataupun ajaran mana dapat dipetik secara aplikatif bagi perilaku dalam hidup kita. Sebab, ajaran yang tersurat berisi sikap perilaku terpuji Nabi Yusuf yang memang sangat patut dijadikan suri tauladan serta runutan kehidupan" tuturnya usai pelaksanaan macapatan di Sanggar Seni Kaloka, Selasa dini hari 7 Desember lalu.

Pada gelaran macapatan di Sanggar Kaloka, disajikan sebanyak 11 pupuh secara berurutan hingga rampung pada pukul 00.00 dini hari memasuki tanggal 1 bulan Suro 1944 menurut kalender Tahun Saka (Jawa) dan tanggal 1 Muharram 1432 H (berdasarkan Hitungan Tahun Hijriah).

Pungkasan penyajian ke sebelas pupuh tersebut ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh pendiri sanggar Ki Kustoro (64) untuk diserahkan kepada Bayu Kusuma (28), seniman muda yang merupakan penerus Sanggar Kaloka. Macapatan agaknya menjadi agenda tahunan yang relatif penting untuk diuri-uri.

Hal itu dapat dilihat dari keikutsertaan sejumlah seniman sanggar pada acara tersebut. Selain sejumlah seniman muda nampak hadir Ki Kusnendi dan Ki Kusrinto, yang tak asing lagi di jagat seni karawitan Pemalang. Penyajian pupuh dilakukan bergiliran Ki Muharso, Ki Kustoro dan Ki Takdir. Sementara Ki Kusnendi dan Ki Kusrinto mendukung dengan senggakan bersama seniman lain yang hadir.

Masih menurut Ki Muharso, tembang berjumlah 11 yang dilantunkan masing-masing mengisahkan perjalanan Nabi Yusuf sebagai salah satu putera Nabi Yakup yang sejak kecil telah memiliki keistimewaan. Dikisahkan, Yusuf kecil yang mulanya akan dibunuh saudara-saudaranya akhirnya dibuang ke dalam sumur di suatu tempat yang jauh dari areal pengembalaan kambing.

Kisah ini disampaikan dalam pupuh asmaradana yang menjadi pupuh pembuka acara macapatan. Menyusul kemudian pupuh dandang gula yang mengisahkan saudagar yang diikuti Yusuf meraih kesuksesan berniaga, namun Yusuf mulai mendapat perilaku kurang senonoh dari sesama pekerja. Berikutnya berturut- turut pupuh kinanti, durma, megatruh, mijil, pucung, sinom, gambuh, pangkur dan terakhir adalah pupuh maskumambang. Dari keseluruhan tembang yang dilantunkan berurutan tersebut terasirat secara gamblang perjalanan seorang Yusuf dengan segala aral merintang hingga akhirnya menjadi seorang nabi sekaligus raja.

Baik tembang pembuka, yakni asmaradana maupun sepuluh tembang lainnya adaalah wewarah kehidupan yang teracik dalam sair tembang gubahan pujangga di masa lalu yang merunut pada apengalaman kehidupan secara empiris dalam rentang waktu yang sangat panjang. Kaitan tembang-tembang macapat dilantunkan dalam acara macapatana, menurut Ki Muharso, tidak lain untuk mengingatkan kita agar tetap eling kepada Tuhan yang maha pencipta.

Sebab sebagai manusia biasa kita adaalah tempatnya khilaf dan dosa. Dengan meneladani perilaku Nabi Yusuf diharapkan kita akan menjadi lebih berhati-hati dalam berperilaku, menyayangi sesama hidup, bisa instrospeksi diri serta meningkatkan iman dan ketaqwaan. Bulan Suro merupakan tahun baru menurut perhitungan tahun Saka (Jawa). “Maka kita menyambutnya dengan menggelar macapatan untuk mengingat kembali wewarah kebaikana dan budi pekerti luhur sebagaimana tersirat dalam tembang pupuh yang disajikan.” pungkas Ki Muharso. (Ruslan Nolowijoyo)

Tribunners

Ruslan_Nolowijoyo
http://www.tribunnews.com/2010/12/11/acara-macapatan-menyambut-1-sura
Translate to : by

0 komentar:

Posting Komentar