Sleman - Posko SAR Balerante, Manisrenggo, Klaten, Jawa Tengah, mendadak heboh. Pasalnya tiga laki-laki asal Desa Talun, Kemalang, yang baru datang ke tempat itu langsung berorasi di hadapan para pengungsi. Suasana jadi geger lantaran sebelum orasi ketiganya memperkenalkan diri sebagai titisan Mbah Petruk dan Kiai Sapu Jagat, dua nama yang dikenal sebagai penjaga Merapi.
Warjo, Walidi dan Pardiyo, begitu nama laki-laki itu, kepada para pengungsi mengaku dapat amanat untuk menyampaikan pesan agar para pengungsi di posko itu pindah lokasi pengungsian ke daerah Klaten. Sebab wilayah Keraton Yogyakarta sudah tidak aman karena Mbah Petruk sudah murka dengan masyarakat di wilayah kerajaan tersebut.
Selain berorasi, salah seorang di antaranya sempat menunjukan kesaktiannya dengan membenturkan keningnya ke aspal. Namun sebelum atraksi berlanjut, Walidi, yang mengaku titisan Mbah Petruk itu langsung diamankan Tim SAR. Mereka dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa kejiwaanya. Menurut salah seorang petugas Tim SAR, ketiga laki-laki tersebut diduga mengalami stres.
Psikolog Dr Mintarsih A Latief mengatakan, efek bencana Merapi memang bisa menimbulkan tekanan psikologis bagi warga yang terkena dampak bencana. Selain mereka harus kehilangan anggota keluarga akibat awan panas, mereka juga kehilangan harta benda dan mata pencaharian. Sebab umumnya para penduduk lereng Merapi merupakan petani.
"Kini mereka praktis tidak bisa lagi mencari nafkah sebab lahan pertanian rusak dihantam abu vulkanik. Belum lagi mereka juga harus kehilangan tempat tinggal dan harta mereka. Tekanan psikologis seperti ini bisa membuat stres," ujar Mintarsih saat berbincang-bincang dengan detikcom.
Kondisi itu, diperburuk dengan kondisi pengungsian yang sangat tidak layak. Mereka tidak bisa tidur nyenyak karena harus berdesak-desakan. Dan ruang gerak mereka jadi serba terbatas.
Dalam kondisi seperti ini mereka terpaksa hanya bisa duduk-duduk di tempat pengungsian. Kondisi ini membuat kenangan buruk yang mereka alami semakin mendalam. Dan ini berakibat tekanan mental. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghilangkan kenangan mengerikan yang dialaminya.
Jangan heran, ujar Mintarsih, kalau banyak pengungsi yang memilih bolak-balik ke desanya. Salah satu alasan yang membuat mereka ngotot pergi ke rumah mereka, selain untuk melihat ternak atau lahan pertanian, juga untuk menghilangkan rasa jenuh dan sumpek selama di lokasi pengungsian.
Buruknya kondisi pengungsian juga diakui Wakil Ketua DPRD Kabupaten Magelang, Muhammad Ahadi. Menurutnya, kondisi para pengungsi di Magelang yang kini jumlahnya sebanyak 60 ribu orang sangat memprihatinkan. Sebab selain lokasinya penuh sesak, fasilitasnya jauh dari memadai.
"Bayangkan saja, lokasi yang ditempati 1.000 pengungsi hanya tersedia 2 sampai 3 kamar mandi atau MCK. Belum lagi hampir di setiap posko kekurangan air," jelas Ahadi saat dihubungi detikcom.
Masalah lainnya, lokasi pengungsian yang sangat banyak dan belum terdata. Sehingga banya pengungsi yang belum tertangani dengan baik oleh pemerintah. Praktis banyak pengungsi hanya mengandalkan bantuan warga dan relawan.
Keadaan ini diakui Ahadi lantaran Pemda Magelang tidak siap dalam menghadapi kondisi ini. Pemkab Magelang tidak menyangka kalau jumlah pengungsi di Magelang akibat letusan Merapi bisa sebanyak ini. Sebab menurut perkiraan arah awan panas hanya ke wilayah Selatan, seperti Sleman.
Nyatanya, abu vulkanik yang menyembur dari kawah Merapi justru paling banyak mengarah ke wilayah Megelang yang berakibat pohon bertumbangan dan rumah-rumah hancur lantak. Hal inilah yang membuat jumlah pengungsi sangat banyak. Apalagi lereng Merapi yang masuk wilayah Magelang merupakan daerah padat penduduk.
Ketidaksiapan ini juga tercermin dari anggaran yang dialokasikan untuk kondisi darurat. Sebab anggaran tidak terduga untuk mengatasi keadaan darurat di APBD 2010 jumlahnya hanya Rp 1,6 miliar. Dan dari jumlah tersebut, sebanyak Rp 700 juta sudah digunakan untuk pembangunan jembatan Trinil yang menghubungkan Kabupaten Magelang dan Temanggung, yang amblas tahun lalu.
Selain menyesali keterbatasan Pemkab Magelang dalam mengatasi para pengungsi, Ahadi juga menyayangkan mekanisme Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Buruknya mekanisme yang dilakukan BNPB membuat hampir semua posko pengungsian di wilayah Magelang kelimpungan. Terutama jika menyangkut infrastruktur untuk pengungsi, seperti MCK misalnya.
"Kami tidak tahu kalau kekurangan air, MCK, serta sekolah darurat harus menghubungi siapa. Kalau soal makanan dan keperluan lain sudah banyak bantuan dari swasta dan swadaya warga. Tapi kalau soal infrastruktur tidak bisa disiapkan warga," terang Ahadi.
Masalah keterbatasan air juga dikeluhkan Heri Suprapto, Kepala Desa Kepuharjo, yang saat ini mengungsi di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. Sebab hampir setiap hari warganya yang tinggal di pengungsian mengeluh tidak bisa mandi dan mencuci.
Soalnya, selain jumlah MCK dan air terbatas. Alat-alat untuk mandi, seperti odol, sabun, dan sikat gigi juga selalu raib. Alhasil banyak warga desanya yang memilih tidak mandi atau mencuci. "Di sini kalau kita tidak tebal muka tidak bakal bisa mandi dan mencuci," ungkap Suprapto.
Selain urusan air dan MCK, Suprapto juga banyak menerima keluhan dari warganya tentang nasib anak-anak mereka. Anak-anak banyak yang terlihat tertekan karena mereka tidak bebas bergerak dan bermain lataran lokasi pengungsian yang penuh sesak.
Masalah para pengungsi anak ini sempat menjadi sorotan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Dari hasil pemantauan lembaga tersebut di sejumlah lokasi pengungsian korban Merapi, KPAI melihat perlakuan terhadap pengungsi anak-anak masih kurang layak.
Saat ini anak-anak pengungsi menempati bangunan-bangunan fasilitas umum, perkantoran, bahkan ada juga yang menempati tenda-tenda darurat. Hal ini dianggap sangat memprihatinkan. Sebab kondisi anak-anak sangat rentan terhadap cuaca dan penyakit. Sehingga dikhawatirkan anak-anak di pengungsian bisa dengan mudah terserang penyakit.
Melihat kondisi tersebut KPAI kemudian merekomendasikan agar tenda-tenda darurat hanya digunakan untuk orang dewasa, sedangkan anak-anak dipindahkan ke bangunan-bangunan yang permanen.
Kurang layaknya kondisi tempat pengungsian inilah yang dikhawatirkan psikolog Mintarsih A Latif. Sebab kondisi tersebut bisa menjadi ancaman baru bagi para korban letusan Merapi, yakni tekanan mental.
(zal/fay)
M. Rizal - detikNews
http://www.detiknews.com/read/2010/11/08/141551/1489365/159/stres-jadi-ancaman-baru-korban-merapi
Translate to : by



0 komentar:
Posting Komentar