Harga minyak mentah dunia kembali melonjak dan kini sudah hampir mendekati US$ 90 per barel. Namun pemerintah sejauh ini masih tenang-tenang karena kenaikan harga minyak dinilai sifatnya masih temporer saja.
Hal tersebut disampaikan Menko Perekonomian Hatta Rajasa saat ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (8/11/2010).
"Tidak ada dampak karena kalau melihat harga ICP kita itu kita lihat satu tahun itu. Kan dari APBN rata-rata US$ 80 (per barel) dalam satu tahun ini. Memang akhir-akhir ini naik US$ 82, US$ 80 (per barel), sekian tapi secara keseluruhan tak akan melampaui daripada itu. ICP kita US$ 80-an tapi kalau lihat bulan lalu masih US$ 78-79 per barel," ujarnya.
Hatta menilai kenaikan harga minyak sebesar yang pada Oktober telah mencapai US$ 82,26 per barel belum memberikan dampak yang cukup besar bagi APBN karena sifatnya hanya sementara. Oleh sebab itu, Hatta mengakui belum ada rencana untuk menaikkan harga BBM.
"Tidak," ujarnya ketika ditanya apakah hal tersebut menyebabkan pemerintah berencana menaikkan harga BBM.
Yang jelas, Hatta menyatakan pihaknya lebih fokus pada target pencapaian lifting yang diperkirakan tidak akan mencapai target. Pasalnya, pipa gas Transportasi Gas Indonesia (TGI) yang bocor selama 2 minggu mengurangi potensi lifting sebesar 160 ribu bph dan setiap 10 ribu barel tidak tercapainya target liftimg akan mengurangi sebanyak Rp 1 triliun dalam APBN.
"So far belum pada itu. Yang saya concern bukan pada ICP-nya karena ICP saya yakin aman. Yang saya yakin aman adalah soal lifting kalau 10 ribu meleset sama dengan 1 triliun melesetnya. Supaya kita kejar sempet berhenti di Chevron sempet berenti karena pecah pipa ada pengaruhnya. Kita kejar supaya produksi kita tak jauh meleset," tambah Hatta.
Pada perdagangan Senin (8/11/2010) di pasar Asia, harga minyak light untuk kontrak Desember tercatat naik 15 sen menjadi US$ 87 per barel. Minyak Brent kontrak Desember juga naik 9 sen menjadi US$ 88,20 per barel.
Harga minyak mulai merayap naik pada Oktober, dan pada November ini kenaikannya semakin cepat. Lonjakan harga minyak mentah terutama terjadi setelah Bank Sentral AS mengeluarkan kebijakan 'Quantitative Easing' tahap II dengan menggelontorkan likuiditas US$ 600 miliar.
(nia/qom)
Translate to : by



0 komentar:
Posting Komentar